Spektakuler Budaya & Syukur Massal: Lurah Fahmi dan Camat Annita Pimpin Potong 130 Tumpeng di “Ngaruwat Bumi” Dukuh Kupang
SURABAYA – Pilarmaritim.com – Kelurahan Dukuh Kupang, Kecamatan Dukuh Pakis, Kota Surabaya, kembali menorehkan sejarah pelestarian budaya dengan gelaran “Ngaruwat Bumi Ngesong Dukuh Kupang” pada Minggu, 28 Juni 2026. Acara bertagline “Ngleluri Budaya Jawa” ini berhasil menyatukan warga dari RW 01 hingga RW 08 dalam sebuah perayaan kolosal yang memadukan atraksi seni ekstrem, bela diri tradisional, musik rakyat, hingga puncak ritual sakral berupa pemotongan 130 tumpeng secara massal.

Kehadiran Lurah Dukuh Kupang, Fahmi Fitra Ardiansjah, S.STP., M.PSDM. dan Camat Dukuh Pakis, Annita Hapsari Oktorina Sesoria, S.STP. menjadi sorotan utama. Keduanya turun langsung mengenakan pakaian adat Jawa, memimpin barisan kirab, menyaksikan atraksi, hingga bertindak sebagai tokoh utama dalam ritual potong tumpeng. Sikap blusukan ini menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga akar budaya di tengah arus modernisasi kota.
Atraksi Seni: Dari Mistisme Jaranan hingga Ketangguhan PSHT
Sebelum memasuki prosesi sakral, ratusan penonton disuguhkan pertunjukan seni yang memukau dan menegangkan:

Jaranan Makan Api: Atraksi ekstrem ngunyah geni oleh penari Jaranan Tradisional menciptakan momen magis. Aksi menelan bara api ini bukan sekadar tontonan, melainkan representasi kekuatan spiritual dan keberanian dalam filosofi Ngaruwat Bumi.
Terate PSHT: Perguruan Setia Hati Terate menampilkan bela diri yang memadukan ketangguhan fisik dan nilai kesantunan Jawa, merepresentasikan karakter warga Surabaya yang tangguh namun tetap hormat pada tradisi.
Musik Patrol Karang Taruna RT 05: Irama perkusi dari gerobak dorong memberikan energi dinamis pada kirab, menunjukkan kreativitas pemuda lokal dalam mengemas warisan leluhur.
Puncak Sakral: 130 Tumpeng Simbol Syukur Massal
Rangkaian acara mencapai klimaksnya saat prosesi pemotongan 130 tumpeng yang dipimpin langsung oleh Lurah Fahmi dan Camat Annita, didampingi tokoh masyarakat, sesepuh adat, serta Ketua RW dari RW 01 hingga RW 08. Angka 130 ini melambangkan masifnya partisipasi warga dan luasnya cakupan doa untuk seluruh elemen masyarakat Dukuh Kupang.
Dalam tradisi Jawa, pemotongan tumpeng dalam Sedekah Bumi memiliki makna filosofis mendalam:
Simbol Rasa Syukur Kolektif: Bentuk kerucut tumpeng melambangkan gunung sumber rezeki. Memotong 130 tumpeng sekaligus adalah wujud terima kasih kolektif kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Doa Keselamatan Bersama: Prosesi ini merupakan puncak ritual Ngaruwat Bumi (mensucikan bumi), di mana doa kebaikan dipanjatkan untuk seluruh warga tanpa terkecuali.
Berbagi Rezeki Secara Adil: Pembagian tumpeng melambangkan semangat gotong royong, bahwa rezeki harus dinikmati bersama untuk memperkuat ikatan persaudaraan antar-RW.
“Memotong 130 tumpeng bersama warga dari RW 01 sampai RW 08 adalah momen yang tidak akan pernah saya lupakan. Ini bukan sekadar makan bersama, tapi puncak dari segala doa dan usaha kita melestarikan budaya. Saya dan Ibu Camat bangga bisa memimpin ritual ini. Semoga keberkahan selalu menyertai warga, dan budaya Jawa terus hidup di hati generasi muda,” ujar Lurah Fahmi Fitra Ardiansjah, S.STP., M.PSDM.
Sinergi Enam Pilar Pelestarian Budaya Urban
Kesuksesan acara ini membuktikan bahwa pelestarian budaya di wilayah metropolitan dapat dicapai melalui sinergi enam pilar yang solid:
Pemerintah Kecamatan yang Suportif (Camat Annita Hapsari).
Pemerintah Kelurahan yang Blusukan (Lurah Fahmi Fitra).
Partisipasi Warga Lintas RW (RW 01-08).
Ritual yang Sakral dan Masif (130 Tumpeng).
Pemuda yang Kreatif (Karang Taruna & PSHT).
Komunitas Seni yang Berkarakter (Jaranan Tradisional).
Dengan kolaborasi ini, Dukuh Kupang tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga membangun identitas komunitas yang kuat, tangguh, dan penuh kebanggaan di tengah Kota Surabaya.(miskawi)
